
Foto: Potret dua wanita yang tergabung dalam Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Jakarta Utara dengan hasil panennya
JAKARTA – Sejak kecil, nilai-nilai bertani telah tertanam kuat dalam sanubari Muhammad Furqon, dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Jakarta Utara. Didikan orang tuanya dijadikan fondasi utama dalam menjalankan praktik pertanian, terutama dalam hal menjaga metode pertanian alami tanpa pupuk kimia yang masih konsisten diterapkan hingga kini.
“Sejak kecil dididik orang tua, kami tidak pernah mengenal namanya pupuk kimia, namun bukan berarti kami anti. Apa yang telah diedukasi orang tua kami, kami lanjutkan. Kami percaya bahwa itulah cara yang sehat bagi kami,” ungkapnya.
Bagi Furqon, metode alami bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tentang kesehatan dan keberlanjutan. Lewat pengalaman pribadinya, Furqon telah merasakan manfaat nyata pertanian alami sehingga tidak ada keinginan untuk meninggalkannya.
Hasilnya, berbagai jenis tanaman seperti kol, kailan, kembang kol, hingga bayam berhasil dibudidayakan secara organik. Sayur-sayuran segar ini kemudian dipasok untuk kebutuhan masyarakat sekitar, baik untuk konsumsi pribadi maupun kegiatan UMKM dengan harga yang jauh lebih bersahabat.
“Sekarang masih lokal saja, dari ibu-ibu sekitar atau komunitas. Dulu bisa kirim ke pasar besar,” kenangnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kelompok Tani Kampung Bayam Madani mencatat hasil panen yang cukup signifikan, seperti panen kacang panjang yang menyentuh hingga 7 kuintal, jagung 4 kuintal, puluhan kilogram ikan air tawar serta berbagai sayuran lainnya.


Foto: Muhammad Furqon, Ketua dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani mengapresiasi bantuan dari Yayasan Korindo yang digunakan untuk mendukung pembangunan fasilitas dapur kuliner, sarana daur ulang sampah, hingga penyediaan polybag
Upaya Kelompok Tani Kampung Bayam Madani dalam menjaga ketahanan pangan sebelumnya belum mendapat dukungan dari perusahaan mana pun. Hingga akhirnya, Korindo Group melalui Yayasan Korindo menjadi satu-satunya pihak yang hadir memberikan dukungan. Salah satu titik balik pun terjadi ketika kelompok ini mulai terhubung dengan Yayasan Korindo.
Dukungan yang diberikan Yayasan Korindo telah turut membantu Kelompok Tani Kampung Bayam Madani. Bantuan tersebut lalu digunakan untuk mendukung pembangunan fasilitas dapur kuliner, sarana daur ulang sampah, hingga penyediaan polybag yang sebelumnya menjadi keterbatasan utama dalam kegiatan bertani.
Dengan adanya bantuan tersebut, para petani mulai memaksimalkan lahan yang tersedia secara bertahap. Tanaman seperti terong dan melon kini dapat dibudidayakan menggunakan polybag, sebagai solusi atas keterbatasan ruang dan infrastruktur.
Ketekunan Kelompok Tani Kampung Bayam Madani menjadi bukti bahwa pertanian alami tetap dapat bertahan bahkan di tengah keterbatasan lahan dan tekanan urbanisasi. Lebih dari itu, praktik ini juga menjadi bentuk perlawanan terhadap hilangnya identitas petani di tengah arus modernisasi. (PR)








