Skip to main content

Di Tengah Beton Jakarta, Korindo Menyemai Harapan Petani Kampung Bayam

By 9 April 2026April 22nd, 2026Berita Grup3 min read

Foto: Tanaman melon yang mulai berbuah di lahan pertanian Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Jakarta Utara

JAKARTA – Di tengah citra Jakarta Utara sebagai kawasan yang panas dan cenderung gersang, muncul pertanyaan yang sering dilontarkan masyarakat, apakah mungkin pertanian dilakukan di wilayah ini?

Bagi para petani lokal pertanyaan tersebut bukan sekadar keraguan, melainkan gambaran dari tantangan nyata yang mereka hadapi setiap hari, terutama dalam menghadapi keterbatasan lahan, kondisi iklim yang kurang mendukung, serta tekanan urbanisasi yang terus meningkat.

“Di sini kan kebanyakan orang bertanya, apa bisa di Jakarta Utara yang panas, yang gersang, tumbuh pertanian? Katakanlah kol, kembang kol, sawi, itu kan harusnya di dataran tinggi dan memang tempat yang dingin. Tapi kalau kita bisa menyesuaikan pH-nya, perawatannya, beberapa kali kami panen di sini,” ujar Muhammad Furqon, Ketua dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani saat ditemui pada pertengahan April 2026 yang lalu.

Bagi Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, bertani di Jakarta bukan hanya soal menghasilkan nilai ekonomi, ini adalah tentang mempertahankan ruang hidup. Mereka tidak ingin kehilangan identitas sebagai petani sambil menjaga keberadaan lahan produktif di tengah pesatnya pembangunan kota.

Oleh karena itu, selain budidaya tanaman, kegiatan perikanan juga dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan lokal. Di area seluas 5.000 meter tersebut dibangun sejumlah kolam ikan yang masing-masing mampu menghasilkan panen sekitar 3–4 kuintal sekali panen. Jenis ikan yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari lele, bawal, patin, nila, hingga gurame.

Foto: Muhammad Furqon, Ketua dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani menunjukkan tanaman melon yang mulai berbuah di fasilitas greenhouse

“Memang garis takdir Allah kami dilahirkan dari rahim seorang ibu petani dan dibesarkan dari kasih sayang belaian tangan seorang ayah. Makanya, setelah orang tua kami meninggal, kami melanjutkan, karena ini adalah ruang hidup kami sebagai petani,” lanjutnya.

Meski demikian, diakui Furqon Kelompok Tani Kampung Bayam Madani masih membutuhkan dukungan untuk memperkuat kegiatan pertaniannya. Mereka menyadari bahwa perjuangan dalam mengembangkan pertanian tidak harus dilakukan sendiri, melainkan dapat dilakukan melalui kolaborasi dan jejaring.

Uluran tangan pertama untuk kelompok ini datang dari Yayasan Korindo. Melalui Program Green Sponsorship, bantuan dari Yayasan Korindo digunakan untuk mendukung pembangunan fasilitas dapur kuliner, sarana daur ulang sampah, hingga penyediaan polybag.

“Dari sini kami belajar bahwa perjuangan ini membutuhkan uluran tangan, semangat, dan keberanian. Kami juga semakin memahami pentingnya solidaritas dan kebersamaan,” tambahnya.

Melalui kolaborasi ini, Kelompok Tani Kampung Bayam Madani tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga jembatan untuk terus berkembang. Karena semangat gotong royong dari berbagai pihak diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam menciptakan pertanian perkotaan yang berkelanjutan dan mandiri. (PR)