Skip to main content

Sawit Dinilai Turut Tekan Kemiskinan

By 18 Mei 2018Oktober 14th, 2021Berita Industri3 min read

Ferry Santoso. dari Roma. Italia

ROMA, KOMPAS — Perkebunan dan industri minyak kelapa sawit di Indonesia dinilai berkontribusi mengurangi angka kemiskinan yang juga menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lewat program kemitraan atau plasma, petani kelapa sawit dapat mengelola sawit secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan.

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan hal itu dalam konferensi internasional bertema ’’Eradicating Poverty through Agriculture and Plantation In­dustry to Empower Peace and Humanity” di Universitas Pon­tifical Urban. Roma, Italia, Selasa (15/5/2018).

Tampil sebagai pembicara dalam konferensi itu antara lain Perfect of the Dicastery for Promoting Integral Human De­velopment Vatican Kardinal Peter Turkson, Duta Besar Malaysia di Vatikan Tan Sri Bernard Giluk Dompok, Chairman European Palm Oil Alliance (EPOA) Frans Claassen, Pietre Paganini dari Universitas John Cabot, dan James Fry dari LMC International Oxford.

Pemilik perkebunan skala kecil, lanjut Luhut, mencapai 41 persen pemilik lahan dengan Iuas lahan mencapai 4,6 juta hektar. Tenaga kerja langsung yang terserap di perkebunan sawit men­capai 5,5 juta orang dan pekerja tak langsung 12 juta. Karena itu, Pemerintah Indonesia berkepentingan menjaga perkebunan dan industri sawit untuk mengatasi angka kemiskinan sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB tahun 2030.

Kardinal Peter mengatakan, aktivitas manusia dalam pembangunan ekonomi seperti di pertanian menjadi tantangan dalam isu lingkungan hidup. Karena itu, perlu keseimbangan antara aktivitas manusia dan isu lingkungan hidup.

Frans Claassen menambahkan, tujuan pembentukan EPOA adalah memberikan pandangan yang seimbang dan obyektif mengenai berbagai aspek. Minyak sawit diproduksi oleh 40 persen pemilik kebun skala kecil. Di Indonesia dan Malaysia diperki rakan ada 3 juta- 3,5 juta pemilik kebun sawit skala kecil.

Menurut Frans, industri kelapa sawit baik di Indonesia maupun Malaysia berkomitmen mengelola perkebunan dan industri secara berkelanjutan. Indonesia, misalnya, telah memberlakukan standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Karena itu, Frans menilai upaya memboikot produk minyak kelapa sawit bukan solusi. Pembangunan perkebunan dan indus­tri sawit yang berkelanjutan merupakan solusi karena industri sawit mendukung SDGs, seperti upaya mengatasi angka kemis­kinan serta membangun masyarakat dan daerah perdesaan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, dari volume ekspor minyak sawit dan turunannya ke negara-negara Eropa sekitar 5 juta ton pada 2017, kontrihusi ekspor ke Italia 23 persen atau ketiga terbesar setelah Belanda (36 persen) dan Spanyol (29 persen).

Data menunjukkan, total produksi minyak sawit Indonesia tahun 2017 sebanyak 42,04 juta ton dengan total ekspor 31,05 juta ton senilai 22,97 miliar dollar AS. Produksi sawit 2016 sebanyak 35,57 juta ton dengan total ekspor sebesar 25,11 juta ton senilai 18,22 miliar dollar AS. Dari total ekspor 42 juta ton, ekspor terbesar ke India dengan 7,62 juta ton, Eropa 5,02 juta ton, China 3,71 juta ton, Afrika 2.87 juta ton, Pakistan 2,21 juta ton, Timur Tengah 2,12 juta ton, Bangladesh 1,25 juta ton. dan Amerika Serikat 1,18 juta ton.

 

Sumber: Harian KOMPAS, Edisi Tanggal 16 Mei 2018, Halaman 18

Industri kelapa sawit berkomitmen mengelola perkebunan dan industri secara berkelanjutan.

Frans ClaassenChairman of the European Palm Oil Alliance