Berita Industri

Papua. Pembangunan Pemberdayaan Wanita

By 26 March 2019 No Comments

Indigenous Papuan girls. Higher education paving the way towards empowering women

Robert Hii

Editor of CSPO Watch

Keeping an eye on the palm oil industry globally with a focus on sustainable palm oil.

Saya bertemu dengan Kristina Kamuyen, Feronica Samkarai dan Serasilva Samkarai, Betty Boyen serta Marsela Wayoken di asrama mereka yang berlokasi di Merauke, Papua, tempat mereka sedang menimba ilmu di Universitas Musamas.

Memasuki kota Merauke di provinsi Papua, Indonesia bukanlah perjalanan yang mudah. Papua dan provinsi kembarnya, Papua Barat, merupakan daerah yang tidak stabil di mana jurnalis dilarang masuk. Tuntutan untuk merdeka dari Indonesia merupakan isu yang berakibat konflik fatal sehingga sering kali kedua provinsi tersebut berada di bawah peringatan perjalanan yang diberikan oleh sebagian besar pemerintah asing. Perjalanan ke sana tidak diperbolehkan kecuali memang diperlukan. Risiko yang saya ambil sepadan saat saya bertemu dengan para gadis dari program beasiswa yang didanai oleh perusahaan setempat.

Mereka merupakan tipikal gadis yang sering terkikik malu dan berbicara dengan halus, namun menurut sang pengasuh, mereka adalah sekawanan gadis yang penuh semangat di sekitar teman-temannya. Yang menakjubkan mengenai gadis-gadis ini adalah, mereka merupakan anak dari keluarga-keluarga yang kurang mampu dari desa Ngguti yang terpencil dan merupakan penduduk asli.

Provinsi Papua merupakan provinsi yang unik di antara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Provinsi ini lebih memiliki kemiripan dengan Australia dibandingkan provinsi Indonesia lainnya. Termasuk dalam hal masyarakat suku hingga ke kanguru pohon dan kasuari. Sebagai provinsi yang terletak paling timur dan terpisah dari pulau-pulau utama seperti Jawa dan Sumatra, pembangunannya terbilang terlambat. Provinsi ini memiliki perbatasan yang panjang dengan Papua Nugini, sebuah negara merdeka yang telah banyak dieksploitasi oleh perusahan-perusahaan asing untuk diambil sumber daya alamnya.

Perbedaan yang mencolok antara kedua wilayah tersebut adalah kehidupan yang terlihat lebih baik di Papua dan gadis-gadis ini merupakan contoh yang tepat. Terlepas dari sifat pemalu mereka, terdapat rasa percaya diri yang mencolok dari perilaku mereka. Ini merupakan hal yang mengagetkan karena masyarakat yang bersifat patriarki di Nugini mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan menjadi sebuah hal yang lumrah. Berita laporan dari International Women’s Day di tahun 2018 ini menunjukkan beberapa perbedaan mengganggu dalam hal kekerasan terhadap perempuan di Papua jika dibandingkan dengan Jakarta.

Survei yang dilakukan oleh United Nations Development Program menghasilkan statistik yang serupa dan memberikan rekomendasi bagaimana agar situasi tersebut dapat diubah. Untuk gadis-gadis ini yang berada dalam program yang didanai oleh perusahaan, jalan keluar dari kekerasan sudah terlihat jelas. Kemandirian pribadi melalui pendidikan.

Saya meluangkan waktu beberapa hari di Merauke dan bahkan melewati jalanan darat yang tidak rata selama enam jam untuk memasuki daerah terpencil, tempat gadis-gadis tersebut berasal. Dalam beberapa pertemuan dengan para pejabat setempat, kepala suku adat, dan pendeta dari gereja Katolik setempat, saya berusaha mengumpulkan bukti langsung atas laporan kekerasan terhadap wanita dan anak-anak.

Semua responsnya ternyata mirip. Dari rasa ketidaktertarikan yang tampak jelas terhadap topik tersebut hingga rasa terganggu saat saya bersikeras menanyakan tentang kekerasan terhadap wanita. Hal ini membuat saya merasa curiga bahwa mungkin para pejabat setempat dan tokoh masyarakat ini ingin menyembunyikan hal yang sebenarnya dan hanya ingin membicarakan perkembangan yang positif di Papua.

Lalu tebersit pikiran oleh saya bahwa mungkin terdapat hal yang lebih besar di balik ini. Daerah-daerah yang saya kunjungi adalah kabupaten Merauke dan Boven Digoel. Kedua kabupaten termasuk di dalam rencana ambisius pembangunan Papua. Karena itu, statistik yang luar biasa dapat dilihat dari fakta bahwa tingkat kemiskinan dan kematian dini di kabupaten-kabupaten ini menurun, tetapi apakah mungkin pembangunan juga membawa kesetaraan gender dalam pemberdayaan perempuan?

Tidak seperti teman-teman mereka yang masih tinggal di desa-desa terpencil, gadis-gadis penduduk asli tersebut tahu bahwa tersedia pilihan bagi mereka setelah lulus sekolah. Adanya satu saja pilihan membuat perbedaan berarti dalam hal peran-peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga dan pihak yang melahirkan anak.

Saya mengajukan pertanyaan umum kepada mereka semua tentang apa yang akan mereka lakukan jika tidak diberikan kesempatan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Semuanya memberi jawaban yang sama. Mereka mungkin akan menikah atau lebih buruk, menjadi ibu tunggal di usia enam belas tahun. Saat ditanya apakah mereka mau mempertimbangkan kembali ke desa setelah lulus sekolah, jawabannya tidak!

Menurut pengasuh mereka, Maria, kehidupan di desa bagi wanita adat, bahkan di masa sekarang, berarti wanitalah yang memiliki beban mengurus rumah tangga termasuk memasak, membersihkan rumah, dan memberi nafkah keluarga. Tugas laki-laki hanyalah berburu atau terkadang memancing ikan karena peran utama mereka adalah sebagai pejuang atau pelindung tanah adat.

Di tempat lain di Boven Digoel, saya berbicara dengan Dr. Firman dari Kilnik Asiki yang telah bekerja di desa-desa terpencil di Papua selama empat belas tahun. Klinik Asiki juga didanai secara eksklusif oleh sebuah perusahaan swasta. Klinik ini merupakan model keberhasilan program pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan industri-industri untuk mengembangkan daerah terpencil.

Dr. Firman dipenuhi dengan rasa bangga saat membicarakan tentang keberhasilan klinik tersebut. Klinik ini telah berkembang dari klinik pertolongan pertama hingga menjadi dikenal sebagai pusat pelayanan kesehatan terbaik di provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2017.

Dia berhak merasa bangga. Keberhasilan klinik yang signifikan itu disebutnya sebagai usaha bersama dari semua perawat dan spesialis di klinik termasuk usaha dalam mengurangi jumlah kematian akibat malaria dari tujuh korban dalam sebulan menjadi nol korban hingga tahun 2018. Perawatan ekstensif sebelum dan setelah melahirkan memberikan dampak pada tingkat kematian bayi dari beberapa kasus dalam setahun menjadi hanya satu di tahun 2018.

Tantangan terbesarnya kini adalah mendorong proses kelahiran di klinik ketimbang melahirkan secara tradisional “di hutan” sesuai dengan adat-istiadat Papua. Dengan bekerja sama secara erat dengan gereja Kristen setempat yang pendapatnya memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat adat, layanan medis gratis disertai pelatihan kejuruan terhadap wanita juga memberikan jalan keluar bagi wanita Papua untuk keluar dari hubungan penuh kekerasan.

Mungkin ini merupakan pertanda perubahan yang datang bagi para wanita di Papua. Saat ditanya apakah ada catatan kekerasan terhadap wanita di klinik, Dr. Firman tertawa dan berkata:

“Ya, kami mencatat beberapa kasus kekerasan terhadap istri oleh suami. Tetapi kami juga mencatat kasus kekerasan terhadap suami oleh istri!”

Sudah jelas bahwa wanita paling banyak menerima keuntungan saat Papua berkembang. Hal ini terlewatkan oleh para ahli lingkungan yang sering kali mengkritik pemerintah karena telah membiarkan deforestasi di Papua di saat pemerintah Indonesia telah mengumumkan moratorium terhadap perkebunan baru. Para pasien di Klinik Asiki memiliki pandangan yang sangat berbeda dari pandangan para ahli lingkungan. Jumlah kasus yang ditangani oleh klinik dan klinik mobile yang dioperasikannya diperkirakan sekitar 50.000 pasien di tahun 2018.

Bagi generasi muda, khususnya enam ratus dua puluh tiga siswa yang sedang menimba ilmu di sekolah Asiki, sebagiannya mungkin tidak senang harus pergi ke sekolah ketimbang menghabiskan waktu bersama orang tua mereka dalam gaya hidup tradisional, tetapi kakak-kakak kelas mereka di Universitas Musamus merupakan panutan bagi yang lainnya. Seperti yang dinyatakan dengan bangga oleh Kepala Sekolah Pascales dari sekolah Asiki, pemimpin masa depan Papua akan berasal dari sekolah Asiki. Setelah melihat dampak pembangunan terhadap pemberdayaan perempuan, khususnya wanita adat, sangatlah mungkin jika pemimpin Papua di masa mendatang akan melibatkan wanita adat dari desa-desa terpencil.

Sumber : medium.com

Leave a Reply